ASUHAN KEPERAWATAN ENCEPHALITIS
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Infeksi intrakranial dapat
melibatkan jaringan otak (ensefalitis), sumber penyebab dapat berupa dari
bakteri, virus atau bahkan jamur (fungi) dan hasilnya atau penyembuhannya dapat
komplit atau (sembuh total) dan sampai pada menimbulkan penurunan neurologis
dan juga sampai terjadi kematian. Virus masuk tubuh pasien melalui
kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan
menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara: Setempat:virus alirannya
terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.
1.2
Tujuan
Tujuan makalah ini disusun adalah
untuk memenuhi tugas dari salah satu mata kuliah yaitu
Keperawatan Medikal Bedah III Kemudian daripada itu, makalah ini disusun untuk dapat
menjelaskan dan memberi gambaran klinis tentang
penyakit Ensefalitis.
BAB
II
TINJAUAN
TEORITIS
2.1
Definisi
Ensefalitis adalah infeksi
yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non
purulent. (Rahman M, 1998).
Ensefalitis
adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme. (Purnawan
junadi, 1982).
Ensefalitis
adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme. Pada ensefalitis
terjadi peradangan jaringan otak yang dapat mengenai selaput pembungkus otak
dan medula spinalis.(hasan, 1997).
Encephalitis adalah infeksi jaringan atas oleh berbagai macam mikroorganisme (Ilmu Kesehatan Anak, 1985).
Encephalitis
adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau
mikroorganisme lain yang non-purulen (+) (Pedoman diagnosis dan terapi,
1994).
Encephalitis
adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh bakteri cacing,
protozoa, jamur, ricketsia atau virus (Kapita selekta kedokteran jilid
2, 2000).
2.2
Klasifikasi
Klasifikasi menurut Soedarmo dkk,
(2008) adalah:
1) Ensefalitis fatal yang biasanya
didahului oleh viremia dan perkembang biakan virus ekstraneural yang hebat
2) Ensefalitis subklinis yang biasanya
didahului viremia ringan, infeksi otak lambat dan kerusakan otak ringan
3) Infeksi asimptomatik yang ditandai
oleh hmpir tidak adanya viremia, sangat terbatasnya replikasi ekstraneural
4) Infeksi persisten.
Meskipun
Indonesia secara klinis dikenal banyak kasus encephalitis tetapi baru
Japanese B encepalitis yang ditemukan (Soedarmo
dkk,2008).
2.3
Anatomi dan Fisiologi Sistem
Persyarafan
a) Pengertian
Menurut Setiadi, (2007) sistem
syaraf adalah salah satu organ yang berfungsi untuk menyelenggarakan kerja sama
yang rapih dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuh. Dengan pertolongan
syaraf kita dapat mengisap suatu rangsangan dari luar pengndalian pekerja otot.
b) Sel sel pada sistem syaraf
1)
Neuron
Unit fungsional sistem syaraf yang terdiri dari : Badan Sel, yaitu bagian yang
mengendalikan metabolisme keseluruhan neuron. Sedangakan Akson adalah suatu prosesus tunggal, yang lebih tipis
dan lebih panjang dari dendrit. Bagian ini mengahantarkan impuls menjauhi badan
sel ke neuron lain, ke sel lain atau ke ke badan sel neuron yang menjadi asal
akson ( arah menuju ke luar sel ).
Maka, Semua akson dalam sistem syaraf perifer di bungkus oleh lapisan schwann (
neurolema ) yang di hasilkan oleh sel – sel schwann. Kemudian mielin berfungsi sebagai insulator listrik dan
mempercepat hantaran impuls syaraf. Sedangkan Dendrit adalah Perpanjang sitoplasma yang biasanya
berganda dan pendek yang berfungsi sebagai penghantar impuls ke sel tubuh.
2)
Neuroglial
Sel
penunjang tambahan pada susunan syaraf pusat yang berfungsi sebagai jaringan
ikat yang mensuport sel dan nervous sistem.
3)
Sistam komunikasi sel
Rangsangan ini di sebut stimulus, sedangkan yang di hasilkan dinamakan respon.
Alat penghantar stimulus yang berfungsi menerima rangsangan disebut
reseptor,sedangkan yang menjawab stimulus di sebut efektor seperti otot,sel ,
kelenjar atau sebagainya.
c) Sistem Syaraf Pusat
1) Perkembangan Otak
Otak terletak dalam rongga kranium (tengkorak) berkembang
dari sebuah tabung yang mulanya memperlihatkan tiga gejala pembesaran otak
awal,yaitu:
a) Otak depan menjadi hamisfer serebri,
korpus striatum, talamus, serta hipotalamus. Fungsinya menerima dan
mengintegrasikan informasi mengenai kesadaran dan emosi.
b) Otak tengah,mengkoordinir otot yang
berhubungan dengan penglihatan dan pendengaran. Otak ini menjadi tegmentum,
krus serebrium, korpus kuadriigeminus.
c) Otak belakang ( pons ), bagian otak
yang menonjol kebnyakan tersusun dari lapisan fiber ( berserat ) dan termasuk
sel yang terlibat dalam pengontrolan pernafasan. Otak belakang ini menjadi :
Pons vorali, membantu meneruskan informasi. Medula
oblongata, mengendalikan fungsi otomatis organ dalam( internal ). Serebelum, mengkoordinasikan
pergerakan dasar.
2) Pelindung Otak
(a) Kulit kepala dan rambut
(b) Tulang tengkorak dan columna vetebral
(c) Meningen ( selaput otak )
3) Bagian – bagian Otak
a)
Hemifer
cerebral ( otak besar )di bagi menjadi 4 lobus, yaitu :
(1) Lobus frontalis, menstimuli
pergerakan otot, yang bertanggung jawab untuk proses berfikir
(2) Lobus parietalis, merupakan area
sensoris dari otak yang merupakan sensasi perabaan, tekanan, dan sedkit
menerima perubahan temperatur.
(3) Lobus occipitallis, mengandung
area visual yang menerima sensasi dari mata.
(4) Lobus temporalis, mengandung
area auditory yang menerima sensasi dari telinga.
Area khusus otak besar (cerebrum ) adalah :
Somatic sensory area yang menerima impuls dari reseptor
sensory tubuh. Primary motor area yang mengirim impuls ke otot skeletal broca’s
area yang terliabat dalam kemampuan bicara.
b)
Cerebelum
( otak kecil )
Fungsi cerebelum mengmbalikan tonus otot di luar kesadaran
yang merupakan suatu mekanisme syaraf yang berpengaruh dalam pengaturan dan
pengendalian terhadap :
(1)Perubahan ketegangan dalam otot
untuk mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh,
(2)Terjadinya kontraksi dengan
lancar dan teratur pada pergerakan di bawah pengendalian kemauan dan mempunyai
aspek keterampilan.
Ada tiga jens kelompok syaraf yang di bentuk oleh syaraf
cerebrospinalis yaitu:
(a)Syaraf sensorik, ( syaraf afferen
), yaitu membawa impuls dari otak dan medulla spinalis ke perifer.
(b) Syaraf motorik ( syaraf efferen
), menghantarkan impuls dari otak dan medulla spinalis ke perifer.
(c)Syaraf campuran, yang mengandung
serabut motorik dan sensorik, sehingga dapat mengantar impuls dalam dua
jurusan.
4) Medulla Spinallis
Disebut juga sumsum tulang belakang. Yang terlindung di
dalam tulang belakang dan berfungsi untuk mengadakan komunikasi anatara otak
dan semua bagian tubuh serta berperan dalam : gerak reflek, berisi pusat
pengontrolan yang penting, heart rate contol atau denyut jantung, pengaturan
tekanan darah, pernafasan, menelan, muntah.
d) Susunan Syaraf Perifer
Sistem syaraf perifer menyampaikan
informasi antara jaringan dan saraf pusat ( CNS ) dengan cara membawa signals
dari syaraf pusat ke CNS. Susunan syaraf terbagi menjadi 2, yaitu :
1) Susunan syaraf somatic
Susunan syaraf yang memiliki peranan yang spesifik untuk
mengatur aktivitas otot sadar atau serat lintang, jadi syraf ini melakuakan
sistem pergerakan otot yang di sengaja atau tanpa sengaja
2) Susunan syaraf otonom
Susunan syaraf yang mempunyai peranan penting mempengaruhi
pekerjaan otot sadar atau serat lntang, dengan membawa informasi ke otot halus
atau otot jantung yang dilakuakan otomatis.Menurut fungsinya susunan syaraf
otonom terdiri dari dua bagian yaitu:
(a) Susunan syaraf simpatis
(b) Susunan syaraf para simpatis( Setiadi,2007).
2.4 Etiologi
Berbagai macam mikroorganisme dapat
menyebabkan ensefalitis, misalnya bakteri protozoa, cacing, jamur, spiroxhaeta
dan virus. Penyebab terpenting dan paling sering adalah virus. Infeksi dapat
terjadi karena virus langsung ke otak atau reaksi radang akut karena infeksi
sistemik atau vaksinasi terdahulu.
Macam-macam
ensefalitis virus menurut Robin :
·
Infeksi virus yang bersifat epidemik
·
Infeksi virus yang bersifat sporadik
·
Ensefalitis pasca infeksio, pasca morbili, dan
pasca varisela.
2.3 Patogenesis
Virus masuk ke tubuh pasien melalui
kulit, saluran nafas dan saluran cerna. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus
akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara :
·
Setempat virus alirannya terbatas menginfeksi
selaput lendir permukaan atau organ tertentu.
·
Penyebaran hematogen primer, yaitu virus masuk ke
dalam darah menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
·
Penyebaran melalui saraf-saraf, yaitu virus
berkembang biak di permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.
Masa prodromal berlangsung selama
1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri
tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas dan pucat, gejala lainnya berupa
gelisah, perubahanperilaku, gangguan kesadaran dan kejang.
2.4
Tanda dan gejala ensefalitis
Meskipun penyebabnya berbeda-beda,
gejala klinis ensefalitis lebih kurang sama dan khas, sehingga dapat digunakan
sebagai kriteria diagnosis. Secara umum,gejala berupa trias ensepalitis yang
terdiri dari demam, kejang dan kesadaran menurun, sakit kepala, kadang disertai
kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen,dapat terjadi gangguan pendengaran
dan penglihatan. (Mansjoer,2000).
Adapun
tanda dan gejala ensefalitis sebagai berikut :
1.
Suhu
yang mendadak naik,seringkali ditemukan hiperpireksia
2.
Kesadaran
dengan cepat menurun
3.
Muntah
4.
Kejang-
kejang yang dapat bersifat umum, fokal atau twiching saja (kejang-kejang di
muka)
5. Gejala-gejala
serebrum lain, yang dapat timbul sendiri-sendiri atau bersama-sama, misal paresis
atau paralisis, afasia, dan sebagainya (hassan,1997).
Inti dari sindrom ensefalitis adalah
adanya demam akut, demam kombinasi tanda dan gejala : kejang, delirium,
bingung, stupor atau koma, aphasia hemiparesis dengan asimetri refleks tendon
dan tanda babinski, gerakan infolunter, ataxia, nystagmus, kelemahan otot-otot
wajah. Pemeriksaan Pemeriksaan penunjang :
Secara
klinik dapat di diagnosis dengan menemukan gejala klinik tersebut diatas:
1. Biakan
: dari darah : viremia berlangsung hanya sebentar saja sehingga sukar untuk
mendapatkan hasil yang positif. Dari likuor atau jaringan otak. Akan dapat
gambaran jenis kuman dan sensitivitas terhadap antibiotika.
2.
Pemeriksaan serologis : uji fiksasi
komplemen, uji inhibisi henaglutinasi dan uji teutralisasi. Pada pemeriksaan
serologis dapat diketahui reaksi antibodi tubuh, IgM dapat dijumpai pada awal
gejala penyakit timbul.
3.
Pemeriksaan darah : terjadi peningkatan
leukosit.
4.
Fungsi lumbal likuor serebospinalis
sering dalam batas normal. Kadang- kadang ditemukan sedikit peningkatan jumlah
sel, kadar protein atau glukosa.
5.
EEG / Electroencephalography EEG sering
menunjukan aktivitas listrik yang merendah sesuai dengan kesadaran yang
menurun, adanya kejang,koma,tumor,infeksi sistem saraf, bekuan darah, abses,
jaringan parut otak, dapat menyebabkan aktivitas listrik berbeda dari pola
normal irama dan kecepatan. (Smeltzer,2002).
6. CT
Scan, pemeriksaan CT Scan otak sering kali di dapat hasil normal, tetapi bisa
juga didapat hasil edema diffuse.
2.5
Penatalaksanaan
Obat-obat antikonvulsif untuk
memberantas kejang segera diberikan secara intramusuler atau intravena
tergantung pada kebutuhan, misalnya luminal atau valium. ‘’Intravenous fluid
drip’’ langsung dipasang. Cairan bergantung pada anak.
a. Isolasi
: isolasi bertujuan untuk mengurangi stimuli atau rangsangan dari luar dan
sebagai tindakan pencegahan.
b.
Terapi antimikroba, sesuai hasil kultur
obat yang mungkin di anjurkan oleh dokter:
·
Ampicilin :200mg/kg BB/24 Jam, dibagi 4
dosis.
·
Kemicetin : 100 mg/kg bb/24 jam dibagi
4 dosis.
·
Bila ensefalitis disebabkan oleh virus
(HSV). Acyclovir diberikan secara intravena dengan dosis 30 mg/kg bb per hari,
dan dilanjutkan selama 10-14 hari untuk mencegah kekambuhan.
c.
Mengurangi meningkatnya tekanan
intracranial.
d.
Mengontrol kejang, obat anti konfulsif
diberikan segera untuk memberantas kejang.obat yang diberikan adalah valium dan
atau luminal. Dan valium dapat diberikan dengan dosis 0,3 – 0,5 mg/kg bb/ kali.
e.
Mempertahankan ventilasi, berdasarkan
jalan nafas, berikan O2 sesuai kebutuhan
(2-3menit).
f.
Mengontrol perubahan suhu lingkungan.
2.6
Komplikasi
Angka kematian untuk ensefalitis ini
masih tinggi, berkisar antara 35-50 %, dari pada penderita yangb hidup 20-40 %
mempunyai komplikasi atau gejala sisa berupa paralitis. Gangguan penglihatan
atau gejala neurologik yang lain. Penderita yang sembuh tanpa kelainan
neurologik yang nyata,dalam perkembangan selanjutnya masih mungkin menderita
retardasi mental, gangguan tingkah laku dan epilepsi.
2.7
Penkes
Penatalaksanaan
kejang dan demam :
·
Memberikan kompres hangat jika klien
demam.
·
Menganjurkan atau memberikan banyak
minum saat badan klien panas
BAB
III
KONSEP
ASKEP
3.1 Pengkajian
I.
IDENTITAS
DIRI KLEN
Nama klien,
tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama, bangsa, bahasa, pendidikan,
pekerjaan, status pernikahan,alamat / no telp, tgl masukrmh sakit, no
register,dx medis, sumber informasi, tanggal pengkajian.
II.
RIWAYAT
KESEHATAN SEKARANG
a.
Alasan
masuk : hal yang mendorong klien mencari pertolongan tenaga kesehatan
b.
Keluhan
utama : Panas
badan meningkat kurang lebih 1-4 hari, kejang, kesadaran menurun, Gelisah
,muntah-muntah , sakit kepala. Dan perkembangan
penyakit saat ini dan sekarang (here and now) yang masih dirasakan harus
menggambarkan kriteria PQRST.
c.
Upaya
dan terapi yang telah di lakukan untuk mengatasinya :
III. RIWAYAT
KESEHATAN YANG LALU
Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah
menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan
tenggorokan.
IV. RIWAYAT
KESEHATAN KELUARGA
Genogram tiga
generasi, Identifikasi penyakit yang pernah di derita / sedang di derita
keluarga, riwayat penyakit keturunan, penyakit ensefalitis yang diderita
keluarga.
V.
RIWAYAT
PSIKOSOSIAL
Pola peran berhubungan dengan
keluarga baik dan tidak ada masalah.
VI. PEMENUHAN
KEBUTUHAN DASAR
A.
Nutrisi
& Cairan
Pemenuhan
Nutrisi Biasanya klien dengan gizi kurang asupan makana dan cairan dalam jumlah
kurang dari kebutuhan tubuh. Pada pasien dengan Ensefalitis biasanya ditandai
Dengan adanya mual, muntah, kepalah pusing, kelelahan. Status Gizi yang berhubungan dengan
keadaan tubuh. Postur tubuh biasanya kurus ,rambut merah karena kekurangan
vitamin A, berat badan kurang dari normal.
B.
Eliminasi:
Kebiasaan
Defekasi sehari-hari Biasanya pada pasien Ensefalitis karena pasien tidak dapat
melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstipasi. Kebiasaan Miksi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal.
Jika kebutuhan cairan terpenuhi. Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun, konsentrasi urine pekat.
Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal.
Jika kebutuhan cairan terpenuhi. Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun, konsentrasi urine pekat.
C.
Istirahat/Tidur
Biasanya
pola tidur dan istirahat pada pasien Ensefalitis biasanya tidak dapat
dievaluasi karena pasien sering mengalami apatis sampai koma.
D.
Personal
Higiene
Dapat
di temukan berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan diri dan
dapat menimbulkan ketergantungan.
E.
Pola
Aktifitas
a.
Aktivitas sehari-hari : klien biasanya terjadi gangguan, karena Ensefalitis
dengan gizi buruk mengalami kelemahan.
b.
Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak
dilakukan latihan positif.
c. Upaya pergerakan sendi : bila terjadi
atropi otot pada gizi buruk maka dilakukan latihan pasif sesuai ROM (range of
motion)
d. Kekuatan otot
berkurang karena Ensefalitis dengan gizi buruk .
e. Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke
jantung ,ginjal ,mudah terkena infeksi berat,aktifitas turun ,Hb turun
,punurunan kadar albumin serum, gangguan pertumbuhan.
F.
Seksualitas
Dapat
menyebabkan masalah pada klien dalam berhubungan dengan pasangannya. Dapat
terjadi perubahan pola pola seksualitas yang membutuhkan konsultasi/konseling
lebih lanjut.
G.
Spiritualitas
Dapat
terjadi gangguan dalam melaksanakan ibadah rutin yang biasa klien lakukan
berhubungan dengan keterbatasan gerak dan nyeri yang dapat mempengaruhi
kegiatan ibadah rutin yang biasa di lakukan klien sehari-hari.
H.
Sosial
Faktor
menderita ensefalitis, dapat menyebabkan kerusakan interaksi social klien
dengan keluarga atau orang lain : perubahan peran ; isolasi diri.
3.2 Pemeriksaan
fisik
·
Tingkat kesadaran : Adanya penurunan
tingkat kesadaran.
·
GCS : Eye respon: …
Motorik respon: … Verbal respon: …
·
Keadaan umum : Sakit
·
Kulit : Saat diraba
kulit terasa agak panas
·
Ttv : Terjadi
peningkatan sistol tekanan darah, penurunan
nadi
bradikardia, peningkatan frekuensi pernafasan.
·
Kepala : Wajah tampak lesu, pucat, sakit kepala,
varestesia,
Terasa kaku pada
semua persyarafan yang terkena, kehilangan sensasi(kerusakan pada asaraf
kranial).
·
Mata : Gangguan
pada penglihatan, seperti diplopia, menguji
penglihatan,
ukuran pupil, reaksi terhadap sinar dan ketidaknormalan pergerakan mata.
·
Telinga :
Ketulian atau mungkin hipersensitif terhadap
kebisingan.
·
Hidung
: Adanya
gangguan penciuman
·
Mulut dan gigi :
Membran mukosa kering, lidah terlihat bintik putih
dan Kotor.
·
Leher : Terjadi kaku kuduk dan terasa lemas.
·
Dada : Adanya riwayat kardiopatologi seperti endokarditis,
beberapa penyakit jantung kongenital.
·
Abdomen :
Biasanya
klien mual dan muntah.
·
Genetalia, rectum dan abdomen : Tidak ada kelainan.
·
Eksremitas atas dan bawah : Tidak ada kekuatan otot dan teraba dingin.
·
BB Dan TB :
Penurunan berat badan akibat penurunan nafsu
makan dan tinggi
badan di kaji sesuai usia.
3.3 Pemeriksaan laboratorium
Gambaran
cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu.
Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar
protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.
Gambaran
EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila
terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan
dapat dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda
klinis flokal, biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang
biasanya menjadi predileksi virus Herpes Simplex.
3.4 Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.
2.
Resiko tinggi perubahan perpusi jaringan b/d Hepofalemia,
anemia.
3.
Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang
fokal.
4.
Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai
dengan anak menangis, gelisah.
5.
Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot
yang ditandai dengan ROM terbatas.
6.
Gangguan sensorik motorik (penglihatan,
pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan susunan saraf pusat.
7.
Ansietas b/d ancaman kematian/ perubahan dalam
status kesehatan.
8. Kurang
pengetahuan b/d keterbatasan kognitif.
3.5 Implementasi dan Evaluasi
·
Implementasi adalah : tahap ketika perawat
menfgaplikasikan rencana asuhan keperawatan kedalambentuk intervensi
keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan
.kemampuan perawat yang harus dimiliki pada tahap implementasi adalah :
kemampuan komunikasi yang efektif.kemampuan untuk menciptakan hubungan saling
percaya yang saling membantu .kemamapuan untuk teknik psikomotor kemampuan
melakukan observasi,sistematis kemampuan memberikan pendidikan
kesehatan,kemampuan advokasi dan kemampuan evaluasi.
·
Implementasi tindakan keperawatan
dibedakan dibedakan menjadi 3 kategori yaitu :independen,interdependen,dan
dependen.
1.
Independen yaitu : suatu kegioatan yang
dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dari dokter ,tindakan keperawatan
independen antara lain :
ü Mengkaji
klien dan keluarga melwalui pemeriksaan fisik untuk mengetahui status kesehatan
.
ü Merumuskan
diagnosis sesuai respon klien.
ü Mengidentifikasi
tindakan keperawatan.
ü Mengevaluasi
respon klien terhadap tindakan keperawatan dan medis.
2.
Interdependen yaitu : kegiatan uang
memerlukan kerjasama dari tenaga kesehatan lain (mis.ahli gizi,fisioterapi dan
dokter).
3. Dependen
berhubungan dengan perencanaan tindakan medis / interaksi dari tenaga medis
Hal
lain yang tidak kalah penting pada tahap implementasi ini adlah mengevaluasi
respon atau hasil daritindakan keperawatan yang dilakukan terhadap klien serta
mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan berikut respon atau
hasilnya.
·
Evaluasi adalah : tahap akhir dari
proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana
antara hasil akhir yuang teramati dan tujuan atau criteria hasil akhir yang
dibuat pada tahap perencanaan.
Secara
umum evaluasi ditunjuk untuk :
1. Melihat
dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan.
2.
Menentukan apakah tujuan keperawatan
telah tercapai atau belum.
3. Mengkaji
penyebab jika tujuan asuhan keperawatan belum tercapai.
Evaluasi terbagi atas dua jenis yaitu :
evaluasi formatif dan evaluasi sumatif
1. Evaluasi
formatif adalah berfokus pada aktifitas proses keperawatan dan hasil tindakan
keperawatan. Evaluasi formatif ini dilakukan segera setelah perawat
mengimplementasikan rencana keperawatan .
2. Evaluasi
sumatif adalah : evaluasi yang dilakukan setelah semua aktifitas proses
keperawatan selesai dilakukan. Evaluasi sumatif ini bertujuan menilai dan
memonitor kualitas asuhan keperawatan yang telah diberikan.
Metode yang dapat digunakan pada evaluasi jenis ini adlah
melakukan wawancara pada akhir layanan.menanyakan respon klien dan keluarga
terkait layanan keperawatan mengadakan pertemuan pada akhir layanan.
Ada 3 kemungkinan hasil evaluasi yang
terkait dengan mencapai tujuan keperawatan :
1. Tujuan
tercapai jika klien menunjukan perubahan sesuai dengan standar yang telah
ditentukan .
2.
Tujuan tercapai sebagian / klian masih
dalam proses pencapaian tujuan
3. Tujuan
tidak tercapai jika klien hanya menunjukan sedikit perubahan dan tidak ada
kemajuan .
Evaluasi akhir yang dapat di capai pada
penanganan klien dengan Ensefalitis adalah :
ü Klien
tidak mengalami infeksi lebih lanjut.
ü Klien
mengalami pengurangan tingkat keletihan.
ü Klien
dapat meningkatkan atau mempertahankan tingkat mobilitas.
ü Klien
mampu mempertahankan aktivitas perawatan mandiri.
ü Klien
mengalami perbaikan citra tubuh.
ü Tidak
terjadi ansietas.
ü Klien
menunjukan pemahaman tentang informasi yang di berikan.
ü Tidak
terjadi komplikasi lebih lanjut.
DAFTAR
PUSTAKA
Ø Laboratorium UPF
Ilmu Kesehatan Anak, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Fakultas Kedokteran UNAIR
Surabaya, 1998
Ø Ngastiyah,
Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997.
Ø Rahman M,
Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium, Kelompok Minat
Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986.
Ø Sacharian, Rosa
M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
,1993.
Ø Kapita selekta
kedokteran edisi 2, jakarta, 1982
Tidak ada komentar:
Posting Komentar